Safaruddin, S.Kom
Teknisi Komputer, Programmer Web.
Yogyakarta, Indonesia.

I love the web
follow me on

Meneropong Perpustakaan Ideal 2009

Selasa, 4 Januari 2011 12:15:23
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)

Perpustakaan.

Membaca merupakan kunci menemukan ilmu, menghasilkan karya, bahkan menaklukkan rahasia dunia. Dengan membaca-lah kebodohan dapat diberantas, kemiskinan dapat dituntaskan. Dalam mencapai misi tersebut maka diperlukan sebuah wadah yang dapat  menyalurkan minta masyarakat dan kebutuhannya akan buku, yaitu perpustakaan

      Kehadiran perpustakaan amat sangat penting dalam mengajak masyarakat untuk mulai mencintai buku. Ini memang bukan pekerjaan yang mudah. Untuk itu diperlukan sebuah rancangan matang dalam mempersiapkan sebuah perpustakaan yang ideal . Bukan hanya  mampu menarik minat masyarakat untuk membaca, namun dapat menjadikan masyarakat tersebut semakin cinta membaca dan menjadikannya sebagai salah satu kegiatan rutin hariannya.

      Ada 3 tugas pokok utama dalam menciptakan perpustakaan ideal yaitu bagaimana mengajak orang untuk mulai cinta membaca, bagaimana meningkatkan jumlah pembaca setiap harinya, serta kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat mendorong dan mempertahankan minat masyarakat untuk membaca.

      Sulitnya menarik perhatian masyarakat untuk membaca apalagi harus pergi keperpustakaan, merupakan tantangan yang harus ditaklukkan. Banyak hal yang dapat dilakukan seperti melengkapi terlebih dahulu koleksi buku. Buku-buku harus beragam bentuk, jenis, dan mampu melingkupi semua bidang ilmu pengetahuan. Misalnya buku-buku sosial, agribisnis, teknologi dan komunikasi, agama, kesenian, budaya, pengetahuan alam, pengembangan diri, koran, majalah, kamus, ensiklopedia, dan sebagainya. Buku-buku tersebut harus tertata dengan baik  dan teratur. Jika perlu memisahkan antara buku-buku khusus untuk anak-anak dengan orang dewasa. Jika mempunyai ruangan yang cukup luas, dibuat sebuah ruangan membaca khusus anak yang didesain ala dunia anak dan dilengkapi dengan  alat belajar yang memadai.

      Ruangan perpustakaan secara umum pun diatur sedemikian rupa sehingga dapat mendukung suasana nyaman untuk membaca, misalnya penataan lampu. Ruangan jangan terlalu gelap dan tidak terlalu terang. Ruang administrasi pun sebaiknya berjauhan dengan ruang baca agar tidak mengganggu aktivitas para pengunjung.

      Sosialisasi menjadi tugas yang tidak boleh tertinggal. Sosialisasi bisa dalam bentuk info secara tidak langsung misalnya spanduk, pamphlet, brosur, iklan, Koran, televisi, radio, dan sebagainya.

      Dapat juga dilakukan secara langsung seperti megunjungi kantor-kantor, sekolah, mengadakan kegiatan di perpustakaan tersebut, perputakaan keliling dan sebagainya.

      Setelah berhasil menarik masyarakat ke perpustakaan dan cinta untuk membaca, maka tugas utama kedua adalah bagaimana meningkatkan jumlah pengujung setiap harinya.

      Mutu pelayanan menjadi hal yang paling dibutuhkan pengunjung. Petugas perpustakaan yang judes, cerewet, bahkan acuh tak acuh dengan keperluan dan kenyaman para pengunjung, membuat mereka tidak betah berlama-lama dan merasa bosan di perpustakaan. Ocehan petugas akan menurunkan konsentrasi dan gairah membaca. Sebaiknya memang dibutuhkan seorang petugas yang mengerti betul visi dan misi didirikannya perpustakaan serta tahu apa tugas dan tanggung jawabnya.

      Agar semakin menarik minat pembaca, sebaiknya perpustakaan dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas pendukung belajar lainnya seperti jaringan internet. JIka belum bisa menyediakan sendiri, dapat bekerjasama dengan pemilik usaha warung internet ataupun jasa pengetikan.

      Jika ingin lebih ekslusif, disediakan ruangan khusus untuk menonton filim-film documenter, atau film-film bernuansa pendidikan, dan sebagainya. Ruangan tersebut dapat pula berfungsi sebagai ruang seminar, bedah buku, bedah film, rapat, dan sebagainya. Ruangan ini bisa saja dipersewakan untuk menambah kas perpustakaan. Tentunya dengan harga yang wajar dan sesuai dengan biaya yang dikeluarkan oleh perpustakaan seperti biaya listrik, sound system, penyediaan sarana, dan sebagainya.

      Agar fasilitas semakin kompleks, pengurus juga perlu menyediakan kantin di halaman perpustakaan dengan melibatkan masyarakat miskin sebagai penjual. Disini, tampak terjalin simbiosis mutualisme. Selain dapat membantu menghasilkan pendapatan bagi pedagang kecil tersebut, perpustakaan juga diuntungkan dengan betahnya pegunjung berada di sekitar perpustakaan.

      Dengan fasilitas yang memadai serta pelayanan yang memuaskan, hampir dipastikan perpustakaan akan ramai dikunjungi dan menjadi tempat tongkrongan favorit.

Tugas selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan minat baca masyarakat dan semakin mendorong mereka untuk menggali ilmu, sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama di perpustakaan dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

      Hal tersebut dapat diantisipasi melalui kegiatan-kegiatn positif, baik yang yang diadakan perpustakaan maupun kerjasama perpustakaan dengan pemerintah, LSM, organisasi, komunitas, dan lain sebagainya.

      Bagi pengurus perpustakaan, dapat melakukan kegiatan seperti bazaar buku, lomba resensi buku,-buku perpustakaan, lomba menulis, lomba membaca untuk anak-anak,  kuis-kuis mingguan, atau bisa juga bedah buku maupun dialog dengan tokoh ataupun penulis buku yang dibedah.

      Bisa juga dengan melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga pemerintahan maupun non pemerintahan. Misalnya bekerjasama dengan Badan Penyuluh Pertanian lalu mengadakan penyuluhan ke petani-petani,  peternak, dan sebagainya tentang tekhik pengolahan pertanian, perkebunan, maupun peternakan dengan baik dan dapat mendatangkan banyak keuntungan. Atau misalnya, bekerjasama dengan organisasi kepemudaan lalu mengundang tokoh sukses dan inspiratif lalu mengadakan seminar atau pelatihan pengembangan kepribadian, dan sebagainya.

      Pengembangan tersebut tidak sekadar berupa kegiatan. Bisa juga dengan penghargaan-penghargaan seperti lomba anggota perpustakaan teraktif, kategori buku yang paling digemari, sekolah/ instansi yang anggotanya paling banyak dan sering hadir di perpustakaan, dan sebagainya. Penghargaan-penghargaasn kecil seperti ini dapat menghasilkan pengaruh yang cukup besar dalam menarik pembaca hadir diperpustakaan lalu mulai sedikit demi sedikit gemar utnuk membaca.

      Memang tak ada yang mudah bisa dilakukan dalam dunia ini. Mencapai sebuah perpustakaan yang ideal serasa hayalah sebuah impian. Terlalu banyak kendala- kedala yang diungkapkan sehingga menjatuhkan semangat kita untuk mengajak masyarakat gemar membaca. Namun, sesulit apapun, segala sesuatu memang hanya berawal dari mimpi, lalu dicita-citakan, diusahakan, didoakan, lalu sebuah hasil yang laur biasa akan terjadi.

      Perpustakaan ideal sesungguhnya dapat tercapai. Hanya tinggal mengatur bagaimana strategi kerja, koordinasi, serta komunikasi efektif dengan berbagai pihak yang mendukung program ini. Bagaimana pun mencerdaskan bangsa adalah tugas bersama dan hanya akan dicapai bila kebodohan telah sirna. Dan kebodohan hanya dapat dilenyapkan dengan selalu membaca, membaca, dan membaca. Semoga perpustakaan kita dapat melahirkan generasi-generasi cerdas, inspiratif, bermoral, dan mampu memajukan bangsa kita.

Penulis: Irdawaty Daming

Media Informasi Kecamatan Nuha “ Kabar Sorowako"

 


, bermoral, nspiratif, perpus, perpustakaan ideal

Anda sedang membaca Meneropong Perpustakaan Ideal 2009 kategori Perpustakaan. Silahkan beri komentar, baik berupa Kritik, Saran, maupun Pertanyaan. Semoga bermanfaat.