Kuliner. Karena ada beberapa keperluan dan sebuah janji temu di Bandung, maka
terpaksalah kami mengarungi kemacetan di Bandung. Janji temu dengan
seorang teman pun terpaksa dilakukan di sebuah cafe kecil yang terletak
di dalam toko Elizabeth di daerah pasar Astana Anyar. Setelah sekian
lama berbincang tiba-tiba sang teman teringat sesuatu. "Makan mi ayam
lezat yuk, mumpung jam 5 sore begini baru buka kalau kemalaman nanti
penuh," ajaknya. Wah tawaran menarik nih, cocok dengan keadaan perut
yang mulai keroncongan.
Kami pun menuju Jl. Jend. Sudirman yaitu
ke daerah pasar Andir dan pelan-pelan kami mencari gang Luna disebelah
kiri jalan. Nah itu dia, sebuah gerobak aluminium terparkir di mulut
gang. Terlihat tulisan dikaca gerobak 'Mie baso pangsit tahu Lezat
special'. Oalaa... sekarang saya baru paham, rupanya 'Lezat' itu nama
warung mienya, tinggal dibuktikannya saja apakah sajian mereka selezat
namanya.
Sebelum memesan, kami pastikan dulu kehalalannya.
Setelah mendengar jawaban halal, kami pun langsung memesan 3 porsi mie
yamin asin plus bakso karena pangsit pesanan ku belum matang. Teman kami
merekomendasikan tahunya yang enak, tapi saya tidak memesannya karena
takut kekenyangan. Disini tersedia 3 meja & kursi panjang dan diberi
atap terpal yang menempel didinding gang.
Sambil duduk saya
melihat-lihat beberapa gerobak yang berderet disebelah kami. Pertama
gerobak minuman, lalu gerobak baso tahu siomay lalu disebelahnya gerobak
apa tuh? Dipaling ujung ada sebuah gerobak dengan 2 buah dandang besar,
dimana tutupnya dihiasi beberapa kain putih kecil yang mengeluarkan uap
asap yang mengebul. Ketika kami tanyakan kepada teman, dia bilang itu
gerobak tukang putu pisang. Hah baru tau ada kue putu isi pisang? Jadi
penasaran nih. Aha habis makan mie, kami harus bungkus putu untuk bekal
dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Sip deh!
Pesanan mie kami pun
datang. Semangkuk mie yang bentuknya bulat kecil, sepertinya buatan
tangan karena tidak keriting, ditaburi ayam cincang halus serta daun
seledri. Didampingi semangkok kuah bening dan berminyak, berisi 3 baso
halus dan daun seledri. Tak sabar saya suap mienya dengan sumpit dan o
la la... lidah rasanya bergoyang, mata pun berbinar senang. Rupanya rasa
mie ini memang selezat namanya. Top!
Perlahan saya seruput
kuahnya, rasanya segar, tidak meninggalkan jejak gurih yang berlebihan,
menyeimbangi rasa mie yang sudah asin. Basonya pun enak padahal saya
bukan tergolong penggemar bakso sejati. Langsung nilai sajian ini
melesat ke peringkat papan atas tujuan wiskul Bandung versi kami
tentunya. Tak memerlukan waktu lama untuk menghabiskan sajian istimewa
ini. Setelah makan, mulutpun kami basuh dengan segelas es jeruk peres
murni dari gerobak sebelah. Hmm rasa manis dan segar menyeruak dimulut
kami, nikmat.
Mengenai harganya hampir sama dengan harga sajian
dari rumah makan, tapi masih ramah dikantong, yaitu mie baso Rp
19.000,00 dan es jeruk Rp 9.000,00. Harga menu lainnya adalah mie
special (baso pangsit tahu) Rp 26.500, mie baso pangsit Rp 22.500, kalau
mie rica tinggal tambah Rp 2.000. Kalau mau pesan baso
tahu/baso/pangsit rebus/goreng saja pun bisa. Semua menu bisa pilih 1
atau setengah porsi. Very flexible.
Setelah selesai kami pun
menuju gerobak putu. Wah ini unik. Didalam gerobak ada 3 baskom besar
yang berisi masing-masing tepung beras, gula merah dan kelapa parut.
Beberapa sisir pisang raja yang sudah tua tampak tergantung di
langit-langit gerobak. Dengan gesit si ibu mengisi cetakan putu yang
berbentuk bulat lalu ditutup dengan kain putih agar putu tidak basah
ketika matang, lalu cetakan ditancapkan ke bagian atas dandang yang
berisi beberapa cerobong kecil. Setiap dandang berisi 8 cerobong.
Setelah putu matang, segera digulingkan ke atas kelapa parut hingga
tertutup. Satu putu dihargai Rp 2.500 dan kami pun memesan 2 dus yang
berisi masing-masing 5 putu.
Kue putu yang masih panas ini sangat
menggoda. Mulut dan tangan kami pun gatal untuk segera mencicipinya.
Dengan beralaskan daun pisang, kami pun segera memakannya. Wuah putu
yang berukuran cukup besar ini memang nikmat, walaupun warnanya hanya
putih, asli tanpa pewarna hijau seperti putu Jakarta, tapi rasa dan
wanginya tetap dasyat. Ketika digigit aroma pisang dan kelapa
menari-nari dihidung, rasa manis dari gula merah dan pisang terasa lumer
dimulut, dan semakin sempurna ditingkahi rasa kelapa yang gurih. Dengan
perut kenyang dan hati senang, kami pun bersemangat kembali menantang
kemacetan dalam perjalanan pulang ke Jakarta.
Mi Lezat Gang Luna
(dekat pasar Andir)
Jl. Jend. Sudirman
Bandung
Visitors | : 479018 Org |
Hits | : 1493935 hits |
Month | : 6240 Users |
Today | : 500 Users |
Online | : 8 Users |
Stat. Web | : Klik |